Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2012

Unpredictable Love




--Unpredictable Love --


Bagaimana kau bisa melepaskannya, jika hanya saja, hal itu sama dengan kau mencabut jantungmu sendiri secara perlahan. - Keyanu -

Dulu aku menerimanya karena 1 alasan,dan jika sekarang, untuk melepaskannya, aku tidak bisa, karena alasan yang dulu kugunakan untuk menerimanya, sekarang telah menjadi jantung di tubuhku. – Kiran –

Dulu, di otakku hanya ada dia, dia dan dia. Proritas utamaku selain kedua orang tuaku adalah dia. Tapi sayangnya, aku tudak bisa bersamanya. Karena kini, nyawaku telah menjadi milik orang lain. Dan kini, aku harus berusaha membuka mataku untuk orang lain itu. – Kyel –

Aku memang telah kehilangan kedua kakiku. Hampa rasanya tak bisa melangkahkan kaki kemana pun aku mau. Mati rasa… seperti itulah rasanya. Hidupku diselimuti oleh keputus asaan. Tapi kini, dengan memiliki hatiku dan hatinya serta dirinya seluruhnya, bagiku itu sudah lebih dari kata cukup. – Cello -  

Lalu . . .
Akankah kami dapat menjalankan kehidupan kami sebagaimana mestinya, menjalankan peran kami sebaik-baiknya?
Hanya kami dan Tuhan yang tahu . .

- This is Our Life, in a different form of LOVE -


Unpredictable Love
@wuluwullan
wulan.nugraha@gmail.com


Regard
wulanndarii 



Rabu, 14 September 2011

Mika Part 4

Mika part 4*



Siang itu, Mika sedang mondar mandir didepan aula sekolah. Kelihatannya dia sedang sangat bingung, takut dan sedikit dongkol. Ya iyalah, gimana nggak kayak gitu, orang semalaman dia harus mikirin tentang masalah dia dan Reno yang berhubungan dengan Rasty n d’geng.
Dan hari itu, sebenarnya dia harus memberikan keterangan pada Rasty tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Reno. Dan Mika pun berencana untuk mengajak Reno berdiskusi tentang masalah yang mereka hadapi, tetapi....
Seketika terdengar pengumuman dari pengeras suara di depan kantor guru. Yang menyatakan, bahawa seluruh anggota basket akan latihan setiap  hari selama 2 jam setelah pulang sekolah. Hal itu diadakan karena berhubungan dengan kompetisi basket tingkat provinsi yang tinggal 10 hari lagi.
Pengumuman itu mendadak diberikan kepada seluruh anggota basket, dan itu membuat Reno dan Mika menjadi bingung. Sebenarnya, awalnya guru-guru pun tak setuju dengan keputusan itu, karena kebanyakan dari anggota basket adalah anak kelas 3 yang akan menghadapi ujian, mungkin 1 setengah bulan lagi. Menurut mereka, basket itu tidak terlalu penting, karena basket kan tidak di UAN-kan.
Tapi apa daya, kepala sekolah telah mengizinkan dan mau tidak mau semua harus mematuhinya.
Dengan pengumuman itu, Mika berpikir bahwa dia akan mengurungkan niatnya untuk mengajak Reno berdiskusi tentang masalah mereka. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membahas masalah mereka setelah kompetesi selesai.
Karena semakin ketat Reno berlatih, berarti semakin sering juga Mika akan duduk di tepi lapangan sambil memegang botol minumnya,  dan menunggu Reno selesai latihan.
Pernah sesekali dia meminta kepada anggota basket untuk membolehkan dia ikut latihan bersama mereka di lapangan, tapi Aidan si wakil ketua basket, langsung melarangnya.

Jumat, 15 Juli 2011

Mika Part 3

Mika part 3*




Malam itu.
Tepat jam 7 malam, Reno pun datang ke rumah Mika. Dan sandiwara itu pun, akan di mulai.

Reno datang dengan mobil mercedesnya, dengan memakai jas hitam, kemeja putih santai, tanpa dasi, Reno berjalan keluar mobil. Dan dia berjalan menuju teras rumah Mika. Diketuknya pintu rumah Mika, beberapa kali. Dan akhirnya seorang pelayan yang usianya mungkin 20an tahun, yang berkerja sebagai pelayan rumah Mika, keluar untuk membukakan pintu.
“Permisi.” Sahut Reno dengan nada sopan.
“Hmm, iya. Ada yang bisa saya bantu.” Elena pun bertanya dengan nada yang tak kalah sopannya.
“Ehh.. Mikanya ada?”
“Ouh, Anda mencari Nona Mika. Jika boleh tahu, anda ini siapa ya, dan ada keperluan apa mencari Mika?” Tanya Elena dengan sangat detail, seolah-olah Reno ingin bertemu dengan Presiden saja.
“Ouh, saya Reno, temennya Mika. Tadi saya sudah membuat janji dengannya. Oh iya, anda sendiri siapa ya? Tantenya Mika?” Reno pun mencoba mengira-ngira dengan siapa dia berbicara.
“Ouh bukan Tuan, saya hanya pelayan dirumah ini. Tantenya Nona Mika, lagi keluar kota.”
“Ouh, maaf kalau begitu. Saya kira, anda Tantenya Mika, karena, anda lebih tidak mirip dengan dandanan seorang pemantu.”
“Oh, Tuan bisa saja. Saya memang tidak terlihat pelayan, karena dirumah ini, saya adalah kepala pelayan,yang hanya bertugas mengawasi pelayan-pelayan lainnya untuk mengerjakan semua kebutuhan Nona Muda.”
“Nona Muda??” seperti inikah kehidupannya. Dikelilingi oleh banyak orang yang selalu siap sedia untuk memenuhi keperluannya *desir Reno dalam hati